Kurikulum Gado-Gado

Oleh:  Maya A. Pujiati

Kurikulum untuk anak-anak yang dididik oleh keluarga dan tidak bersekolah formal, mau tidak mau memang akan beragam. Jika satu keluarga diibaratkan sebagai satu sekolah, maka pada 2 atau 3 ‘sekolah’ saja, kita akan menemukan banyak sekali variasi kurikulum.

Meski ada banyak pilihan kurikulum tunggal seperti kurikulum diknas, Charlotte Mason (CM), Waldorf, Montessori, dll, namun sepertinya kebanyakan keluarga akhirnya memakai kurikulum campuran, atau istilah keren-nya metode eclectic, dan bahasa saya adalah kurikulum gado-gado.

Menyoal kurikulum gado-gado, meskipun disebut gado-gado atau campur-campur, namun sesungguhnya setiap keluarga sepertinya tetap punya prioritas dalam hal ini. Pelajaran atau topik mana yang lebih dominan  disukai anak dan penting buat mereka maka itulah yang lebih dulu dipelajari.

Akan tetapi, betapapun ada yang diprioritaskan atau dominan dipelajari anak, tetaplah jangan  sampai pelajaran-pelajaran penting lainnya ditunda-tunda tanpa stimulasi sama sekali. Hal ini merujuk pada satu keyakinan bahwa ada masa sensitif pembentukan minat. Jika anak-anak tidak mendapatkan sama sekali perkenalan atau sentuhan sebuah mata pelajaran, maka di kemudian hari, akan sangat sulit minat mereka untuk belajar tentang hal itu.

Misalnya orang tua yang mumpuni di bidang seni, maka anak-anak yang pada dasarnya peniru, tanpa sadar akan juga menjadi lebih tertarik dengan bidang itu, karena saban hari mereka menyaksikan orang tuanya berkecimpung aktif dalam bidang tersebut. Tentu saja hal itu tidak salah. Akan tetapi, demi kepentingan mereka, orang tua  juga sebaiknya memberikan stimulus 2 atau 3 minat yang lain, sehingga anak-anak juga punya alternatif minat dan kemampuan untuk bekal di masa dewasa.

Oleh karena itulah, membuat listing topik pelajaran yang HARUS dipelajari juga jadi penting. Bukan dalam pengertian comot sedikit ke sana dan comot sedikit ke sini tanpa arah yang jelas,  tapi orang tua menentukan topik  terlebih dahulu, cari sumber referensinya, cari tahu fasilitas penunjangnya, dan lain sebagainya. Sumber referensi inilah yang mungkin gado-gado, tidak hanya dari satu sumber kurikulum. Dengan begitu, diharapkan anak-anak terarah menjadi ahli dalam bidang-bidang tersebut dan bukan hanya sekedar tahu sedikit-sedikit.

Hanya sebuah pendapat yang masih acak. Semoga wacana ini tidak malah membuat Anda bingung. Happy learning! 😀

Advertisements

Cooking, Home Educating, and…

by Maria Magdalena

Sebelumnya, perkenankan saya menyampaikan alasan mengapa judulnya memakai bahasa Inggris tapi isinya bahasa Indonesia, bukannya sok keminggris (bahasa suroboyoan, artinya keinggris-inggrisan), tapi karena kalau diindonesiakan kok kurang enak didengar, jadinya gini: “Memasak, Memendidikan Rumah, Dan…” Sudahlah.. yang penting bahasannya kan.

Keluarga home education telah lama menyadari pentingnya membiasakan anak bergaul dengan urusan dapur, tidak peduli itu anak perempuan atau laki-laki. Mengapa demikian? Ada yang berpendapat untuk mempersiapkan anak menjadi mandiri dalam mempersiapkan kebutuhan yang paling dasar, yaitu kebutuhan akan makanan. Ada juga yang berpendapat masak bisa menggabungkan segala hal yang perlu dipelajari anak, mulai dari matematika, bahasa Inggris, science (duh bahasa Inggris lagi, untuk yang satu ini kok saya merasa kurang sreg dengan istilah “sains” ya), geografi, dan ilmu sosial. Ada juga yang berpendapat untuk mengasah kemampuan enterpreneur.

Kalau dilihat dari sudut pandang orang tua home education sendiri, banyak juga yang lebih suka menyiapkan makanan rumahan untuk anak-anak daripada membelinya. Alasan yang mendasari antara lain adalah kualitas makanan yang jauh lebih baik dan kebersamaan dengan anak dalam menyiapkan makanan adalah salah satu waktu berkualitas bagi keluarga.

Walaupun tidak semua keluarga home education mengedepankan masak memasak bersama ini, namun bagi keluarga-keluarga berikut ini pengalaman memasak bersama anak adalah saat yang sangat menyenangkan. Simak pengalaman Ibu Dita Maulina dengan Nadya dalam Cup Cake Untuk Papa, dimana ada niatan Nadya untuk memberikan yang terbaik bagi Papanya. Atau keresahan Ibu Maya A Pujiati dengan kualitas makanan yang ada di pasaran hingga membuatnya tergerak untuk bersemangat membuat roti sendiri bagi anak-anaknya dalam Berbagi Resep Roti. Ada juga kegiatan Evan & Clay (putra Ibu Ekawati Indriani P) yang memadukan kegiatan belajar memasak dengan belajar mengenal nama-nama hari dalam bahasa Inggris di Learning About Days of Week. Atau pengalaman memasak Hamzah (putra Ibu Jessica Wicitra) yang pertama kali di Cooking Class 1, ada ketegangan yang mewarnai prosesnya. Lain lagi dengan tujuan Ibu Maria untuk mengajak Pandu belajar wiraswasta melalui masak di Anakku, Belahan Hatiku, Mencurahkan Air Mataku.

Semua kegiatan memasak bersama anak dengan motivasi apapun selalu menjadi kegiatan yang menyenangkan. Happy cooking and happy home educating …

Sharing Kurikulum 4

Data anak yang melakukan Home Education (HE):

Nama:  Abdurrahman Rafif .

Tanggal Lahir: 23 Maret 2003.

Menjalani HE sejak umur 2 tahun.

Kurikulum yang dipakai

(CIE, Charlotte Mason, Moor Formula, diknas, dll)
Sejak 2 bulan lalu kami menggunakan kurikulum dari  CIE.
Materi belajar untuk:
1. Math : Singapore Math penerbit Marshall Cavendish
2. Science : Lets Learn Science penerbit Marshall Cavendish
Unit Study dari Science A – Z
3.  Reading : Buku-buku dari Reading A – Z
Buku-buku dari Bob Books
Materi dari Progresive Phonics
Situs http://www.starfall.com dan http://www.literactive.com
4.  Writing   : Handwriting Without Tears Printing Book

Untuk pelajaran Sosial berasal dari berbagai sumber seperti buku cerita, ensiklopedi, film dan situs internet yang menarik buat anak.
Untuk Seni tidak ada panduan khusus terserah Rafif untuk membuat apa saja dengan bahan yang ada. Biasanya saya selalu menyediakan crayon, cat, kardus bekas, kain flanel, manik-manik, mata boneka, kertas polos, kertas origami, kertas krep dan aneka jenis lem.

Metode Belajar
Metode yang kami pakai Eclectic atau campuran dari berbagai metode. Tidak ada satu metode khusus yang kami pakai.

Penyusunan Jadwal
Belajar dilakukan Senin- Jumat selama saya tidak ada jadwal keluar rumah. Jika saya ada keperluan diluar rumah saya membawa semua anak-anak dan belajar dari apa saja yang bisa kami temui.

Waktu belajar antara jam 9 – 11 siang. Tapi tidak fix tergantung mood Rafif. terkadang bisa saja jam 10 sudah selesai. Waktu selama lebih kurang 2 jam digunakan untuk belajar matematika, sains atau bahasa inggris.Sebelum belajar saya memberikan pilihan kepada Rafif mau belajar pelajaran apa.

Untuk worksheet matematika apabila Rafif sudah mengerti konsepnya dia tidak perlu mengerjakan semuanya.
Untuk Science saya tidak mengikuti secara persis topik yang ada dibuku. melainkan mengikuti minat atau kesempatan yang ada. Misalkan saja ketika sedang makan buah kami kemudian belajar mengenai biji. walaupun berdasarkan buku topik tersebut belum saatnya dipelajari.

Jadwal tetap lain adalah dibacakan buku setiap hendak tidur siang dan malam. Selebihnya Rafif bermain atau melakukan kegiatan bebas.

Sebagian kegiatan kami bisa dilihat di www.daramaina.com

Sharing Kurikulum 3

Oleh: Maria Magdalena

Saya mau share tentang kurikulum yang saya rancang tapi belum tentu disetujui oleh Pandu.. resiko HE (Home Education) nih.. kalau sekolah formal sih anak yang nanggung resikonya, itulah bedanya.

Begini, sejak awal HE, keluarga kami memantapkan diri menggunakan parameter yang ditetapkan oleh Cambridge International Examination (CIE) sebagai patokan tingkatan belajar anak. Namun, kami tidak menggunakannya secara kaku. Kami menerapkannya secara luwes, dan tidak 100% membuat parameter tersebut sebagai sesuatu yang harus dipenuhi oleh Pandu.

Di tengah perjalanan HE, kami akan selalu melihat ketertarikan, minat, dan
potensi Pandu. Seperti misalnya saat ini, dia sedang tertarik dengan penulisan buku dan experimen, dalam bayangan saya, paling tidak itulah yang akan kami lakukan dalam setengah tahun ke depan. Hari-hari yang kami lalui dengan penulisan buku dan experimen. Tapi itu belum tentu juga, karena akan mengikuti minatnya.

Sedangkan untuk buku-buku yang digunakan Pandu, saat ini kami sudah memiliki lebih dari cukup lengkap untuk membuat Pandu menyelesaikan primarynya kalau hanya sekedar menyelesaikan kurikulum CIE, tapi karena kami belajar tanpa batas, maka kami ingin lebih dari itu dan akan selalu dicari selama membutuhkan. Tidak ada patokan yang jelas kapan buku-buku kami bisa cukup untuk pembelajaran Pandu.
Untuk metode sendiri kami sudah fix dan mantap dengan Moore Formula. Ini adalah metode yang paling sesuai dengan kami sampai saat ini.

Nah, mengenai sumber pembelajaran akademis, karena yang utama bagi kami adalah: matematika,  science, dan english, maka kami juga telah merancang materinya.
Materi yang kami miliki ini tidak muluk-muluk dan tidak mahal, bahkan kalau
perlu gratis.. he-he.. seperti matematika, saya cukup memanfaatkan materi dari CIMT yang menyediakannya secara gratis. Untuk English saya rasa Reading A-Z yang saya dapat dari patungan dengan teman-teman dari Klub Sinau cukup menjadi materi bagi pembelajaran. Sedangkan science, selain memakai Science A-Z, Pandu juga senang dengan majalah Kuark (sorry, bukan promo lo..), majalah ini cukup memancing keingintahuan Pandu.

Untuk materi yang lain, seperti geografi dan sejarah dunia, saya banyak

berterima kasih pada mbak Ines untuk kesediaannya mengajak saya patungan (lain kali saya masih mau kok mbak.. karena ternyata gak cuma Pandu yang belajar)
Pemberian materi ini, tidak hanya saya berikan secara urut, tapi juga
loncat-loncat sesuai keinginan dan kebutuhan Pandu. Seperti misalnya untuk
matematika, dibandingkan usia Pandu saat ini (5 th), kalau di sekolah formal dia belum dapat bilangan negatif, tapi karena dia ingin tahu, maka sekarang dia sudah belajar tentang bilangan negatif.

Keseharian belajar kami tidak terjadwal. Memang ada gambaran jadwal seperti misalnya hari ini belajar matematika dan science, besok belajar english dan matematika, tapi hanya itu saja.. tidak ada jadwal hari ini harus melahap buku halaman sekian sampai sekian.. Bahkan cara belajar pun tidak ditentukan, pokoknya matematika dan science, tidak ada yang lain… ini kan cuma HE… 🙂

Bagi kami semua buku dan materi itu tidak ada artinya tanpa penerapannya pada kehidupan nyata. Ini yang mendorong kami untuk belajar terus tanpa dibatasi apapun, karena kami tidak belajar untuk ujian.

Yang menjadi rancangan belajar kami untuk 6 bulan ke depan adalah segala materi CIE sesuai dengan parameter dan silabusnya, juga pembelajaran minat Pandu, seperti aneka experimen dan penulisan buku, selain itu yang tidak boleh ketinggalan adalah pengembangan kemandirian hidup dan kecintaan pada alam. Tapi semua kembali pada Pandu sendiri, ketertarikannya, kesiapannya dan kecepatan belajarnya.

Ya.. itulah sekelumit sharing kurikulum kami. Semoga berguna.

Salam,
Maria

Sharing Kurikulum 2

Oleh: Wiwiet Mardiati

Metode: Eclectic

Saat ini kami masih menunda pelajaran akademik dan masih melatih kebebasan berekspresi, mengungkapkan pendapat, berargumentasi, sekaligus belajar mengontrol emosi dari keseharian seperti mandi, makan, tidur, main game, dan lain sebagainya.

Sebagai contoh, saat ini atala sudah tidak mandi 5 hari karena punya
argumentasi cukup bagus. Menurut dia, dia tidak gatal, tidak (merasa) bau, bukti bahwa tidak ada kuman (sedang winter). Sikat gigi, cuci muka, cuci rambut, dan cuci bagian kotor lainnya (cuci tangan, dll) bisa dilakukan tanpa harus mandi, cukup di lap basah dan usaha sedikit. Dia tidak merasa ada perlunya mandi.

Saat ini sepertinya kami akan sama2 belajar sejarah mandi, kebiasaan mandi di tiap negara, dlsb. Terus terang, argumen atala membuat saya jadi ikut
mikir, hehehe.

Tapi ini yang kira-kira sedang kami rencanakan ke depannya:

Kurikulum Yang Dipakai

Saat ini sedang mencoba www.time4learning.com (t4l) untuk 6 bulan ke depan untuk math, sains, ilmu sosial, lihat bagaimana Atala menanggapinya (sejauh ini atala seperti sudah mulai bosen), dan mempertimbangkan mengembangkan active reading menjadi unit studies mengkombinasikan t4l dengan bfiar (before five in a row dari www.fiveinarow.com),  sebelumnya pernah mencoba www.readingeggs.com

Sumber belajar

Yang sudah berjalan mostly active reading, follow up dari buku2
yang dibaca ke situs, dapur, fieldtrip, art&craft, dan sebagainya.
Buku yg sering digunakan
1. Timelife ensiklopedia tahun 1988 (udah out of date sepertinya)
2. Pustaka lebah ensiklopedia
3. Buku seri “when i’m feeling..” (pengenalan emosi untuk anak balita)

Untuk pelajaran agama, saya memilih tidak menggunakan cara doktrin, tapi belum menemukan cara yg benar-benar pas nih.

Sharing Kurikulum 1

Oleh: Ellen Kristi

Saya ikut share, tapi nulisnya singkat-singkat dulu ya, belum sempat menguraikan argumen panjang lebar.

Metode: Charlotte Mason

Kurikulum:

1. Ambleside Online (amblesideonline.org) yang disesuaikan dengan
konteks Indonesia/Asia,

2. Dipadukan dengan kurikulum Diknas (untuk persiapan ujian
kesetaraan)

Sumber belajar

Mayoritas dipandu oleh amblesideonline.org

Rencana praktek dalam sehari-hari
1. Pendidikan pra-formal: inti pelajarannya berkisar pada subjek habit training, outdoor life, nature walk/study, pengembangan motorik kasar dan halus, apresiasi musik dan seni, serta religiusitas.
2. pendidikan formal dimulai setelah Vima umur 6-7 tahun

Subjek yang dipelajari

Bisa dilihat amblesideonline.org
– prinsip “short lessons”
– metode belajar yang utama adalah membaca dan menarasikan ulang (teknik narasi bisa bervariasi)
– pelajaran tata bahasa dan mengeja sampai dengan Year 4 dikerjakan lewat
menyalin (copywork) dan dikte (dictation)
– pelajaran matematika memakai kurikulum MEP/CIMT
– pelajaran geografi diperkaya dengan wisata backpacking keliling Indonesia
(wuahhh … sudah kebayang asyiknya … dan nggak cuma geografi aja yang
tercakup kan??!!!)

Gambaran jadwal belajar harian bisa dilihat amblesideonline.org